Mencegah Impulsive Buying dan Belanja Lebih Bijak

Mencegah Impulsive Buying dan Belanja Lebih Bijak

Impulsive buying memiliki dampak yang buruk bagi keuangan kita, karena penghasilan yang kita dapatkan bisa habis dengan cepat. Karenanya, kita perlu mengetahui cara-cara belanja yang bijak.

Pengertian impulsive buying

Impulsive buying adalah perilaku konsumen yang berbelanja atau membeli barang dan jasa tanpa di sertai dengan perencanaan matang terlebih dahulu. Pembelian yang terbilang mendadak ini biasanya di picu oleh emosi.

Ciri-ciri impulsive buying

1. Mudah tergoda program penjualan yang menarik

Orang yang memiliki kecenderungan pembelian impulsif mudah tergoda dengan promo, diskon, cashback, atau program-program penjualan menarik lainnya.

Mereka cenderung merasa inilah kesempatan emas untuk memiliki produk dengan harga terbaik. Kalau tidak sekarang, orang yang berperilaku pembelian impulsif bisa menyesal karena telah melewatkan kesempatan emas tersebut.

2. Senang mencari kepuasan instan

Impulsive buying bisa membawa kepuasan. Namun, kepuasan ini hanya berlangsung sesaat atau instan. Meski sesaat, pelaku impulsive buying senantiasa mencari kesenangan tersebut.

3. Membeli barang tanpa berpikir dua kali

Impulsive buying adalah pembelian tanpa rencana. Pelakunya berbelanja tanpa berpikir ulang. Berbagai cara akan di lakukan oleh para pelaku pembelian impulsif untuk memiliki barang incarannya. Terlebih lagi bila mereka merasa kondisi finansialnya mencukupi.

4. Tak ingin tertinggal tren

Ciri lain dari impulsive buying adalah kecenderungan mengikuti tren. Sebagian pelaku pembelian impulsif khawatir di bilang ‘ketinggalan zaman’ karena tak memiliki koleksi produk yang sedang ‘happening’. Maka, mereka akan terus berburu produk-produk terbaru yang di gandrungi oleh banyak orang.

5. Alasan self reward

Sebagian pelaku pembelian impulsif merasa perilaku berbelanja tanpa perencaraan matang merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri (self reward). Menurut mereka, diri sendiri pantas untuk ‘dimanjakan’ karena telah melakukan berbagai upaya dan jerih payah hingga seperti saat ini.

5. Window shopping sebagai pelampiasan stres

Terkadang, orang melakukan window shopping untuk melepaskan stres. Tapi, tidak jarang terjadi dari sekadar window shopping, seseorang menghamburkan uang pada sesuatu yang belum tentu bermanfaat.

Faktor pemicu impulsive buying

1. Kepribadian

Gengsi tinggi, gelisah berlebihan, dan malu adalah beberapa contoh kepribadian yang memicu impulsive buying. Rasa malu, misalnya, akan di rasakan oleh pelaku pembelian impulsif bila tak memiliki produk yang sedang tren.

2. Strategi pemasaran

Promo, diskon, dan cashback adalah beberapa strategi pemasaran. Strategi-strategi seperti ini bisa mendorong perilaku impulse buying.

3. Jenis produk

Jenis atau varian produk juga bisa memicu seseorang berperilaku impulsive buying. Pelaku pembelian impulsif , contohnya, tidak merasa cukup untuk memiliki satu varian sepatu brand favoritnya yang baru di rilis. Padahal, belum tentu ia membutuhkan lebih dari satu varian sepatu tersebut.

4. Geografis dan aspek budaya

Domisili dan budaya seseorang juga bisa mendorong perilaku pembelian impulsif. Orang yang tinggal di pedesaan, misalnya, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk berperilaku pembelian impulsif di bandingkan di kota besar. Begitu pula dengan masyarakat yang bersifat mandiri akan lebih mudah berbelanja secara impulsif daripada masyarakat kolektif.

Dampak impulsive buying

Impulsive buying adalah perilaku yang bisa menimbulkan dampak negatif bagi pelakunya jika di biarkan terus-menerus. Apa saja dampak negatif impulsive buying?

1. Pola hidup boros

Pelaku pembelian impulsif dapat menjalani pola hidup boros. Hal ini berpotensi terjadi jika pembelian impulsif terjadi berulang kali dan telah menjadi kebiasaan.

2. Kesehatan terganggu

Banyaknya barang yang di beli bisa menghasilkan tumpukan di rumah. Bila tumpukan tersebut tak tertata rapi, maka bisa mengganggu kesehatan penghuni rumah. Apalagi bila tumpukan tersebut jarang di bersihkan.

3. Sulit mengelola keuangan 

Berbelanja tanpa perencanaan matang bisa menyulitkan kondisi keuangan pelakunya. Tak hanya jangka pendek, pembelian impulsif juga bisa mempengaruhi kondisi keuangan pelakunya dalam jangka panjang.

Seorang pelaku pembelian impulsif, contohnya, berencana membeli mobil dalam waktu dua tahun. Namun, kebiasaannya berbelanja tanpa perencanaan matang dapat merusak rencana tersebut.

Tips berhenti impulsive buying

Berikut adalah sejumlah tips untuk menghentikan kebiasaan impulsive buying.

1. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan

Hal pertama yang perlu di lakukan adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dahulukan untuk memenuhi kebutuhan di bandingkan dengan keinginan.

Sementara itu, keinginan tidak harus di penuhi sesegera mungkin. Bila memungkinkan, keinginan tersebut di redam semaksimal mungkin.

2. Susunlah skala prioritas

Selanjutnya adalah menyusun skala prioritas dari kebutuhan yang telah di pisahkan dari keinginan. Dengan menyusun skala prioritas, dapat di ketahui mana yang perlu di beli atau di penuhi terlebih dahulu.

3. Buat anggaran belanja rutin

Dari skala prioritas, anggaran belanja bisa di susun rutin. Produk yang penting dapat di susun di urutan teratas. Di bawahnya adalah produk-produk yang kurang penting.

Biasanya, kebutuhan bahan pokok berada di urutan teratas, seperti beras, minyak goreng, gula dan sebagainya. Anggaran belanja ini bisa di susun berdasarkan periode waktu, misalnya tiap minggu atau bulan.

4. Membeli dengan uang tunai

Memang, membeli dengan uang tunai terkesan ‘jadul’. Tapi, ini bisa menjadi cara ampuh untuk menghentikan perilaku pembelian impulsif.

Jika seorang pelaku pembelian impulsif melihat isi dompetnya mulai menipis, maka ia akan terdorong untuk berbelanja sesuai dengan kebutuhannya. Pembelian dengan uang tunai juga bisa melatih disiplin diri terhadap gaya berbelanja yang konsumtif.

5. Terapi keuangan

Bila upaya sendiri belum cukup, maka cara lain yang bisa di coba adalah mengikuti terapi keuangan.

Ahli, pakar, atau konsultan bisa membantu seseorang yang berperilaku pembelian impulsif sesuai dengan kompetensinya. Biasanya, terapi keuangan ini adalah seorang psikolog yang mempunyai pendidikan keuangan.

Keuangan